Cut Nyak Dhien
Cut Nyak Dhien lahir pada tahun 1848 di Aceh Besar di wilayah VI Mukimm, ia terlahir dari kalangan keluarga bangsawan.
Cut Nyak Dhien was born on 1848 in Aceh Besar in VI Mukimm area, she was born from a noble family
Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia. Pada usia 12 tahun, ia menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga.
Her father was named Teuku Nanta Seutia. When she was 12 years old, she married Teuku Ibrahim Lamnga.
Namun pada tahun 1878 Teuku Ibrahim Lamnga, suami dari Cut Nyak Dhien tewas karena telah gugur dalam perang melawan Belanda di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878.
However, on 1878, Teuku Ibrahim Lamnga, Cut Nyak Dhien's husband was died on the war against Dutch in Gle Tarum on June 29th 1978.
Tidak lama setelah kematian Ibrahim Lamnga, Cut Nyak Dhien dipersunting oleh Teuku Umar pada tahun 1880.
Shortly after the death of Ibrahim Lamnga, Cut Nyak Dhien was married by Teuku Umar on 1880.
Mereka dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Cut Gambang.
They were given (blessed) a boy named Cut Gambang.
Setelah pernikahannya dengan Teuku Umar, ia bersama Teuku Umar bertempur bersama melawan Belanda.
After her marriage with Teuku Umar, she fought against Dutch along with Teuku Umar.
Pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien meninggal karena usianya yang sudah tua.
On November 6th 1908, She died due to her age.
Cut Nyak Dhien diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 2 Mei 1964.
Cut Nyak Dhien was claimed by President Sukarno as Indonesian National Hero (National Hero of Indonesia) on May 2th 1964.
Cut Nyak Dhien was born on 1848 in Aceh Besar in VI Mukimm area, she was born from a noble family
Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia. Pada usia 12 tahun, ia menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga.
Her father was named Teuku Nanta Seutia. When she was 12 years old, she married Teuku Ibrahim Lamnga.
Namun pada tahun 1878 Teuku Ibrahim Lamnga, suami dari Cut Nyak Dhien tewas karena telah gugur dalam perang melawan Belanda di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878.
However, on 1878, Teuku Ibrahim Lamnga, Cut Nyak Dhien's husband was died on the war against Dutch in Gle Tarum on June 29th 1978.
Tidak lama setelah kematian Ibrahim Lamnga, Cut Nyak Dhien dipersunting oleh Teuku Umar pada tahun 1880.
Shortly after the death of Ibrahim Lamnga, Cut Nyak Dhien was married by Teuku Umar on 1880.
Mereka dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Cut Gambang.
They were given (blessed) a boy named Cut Gambang.
Setelah pernikahannya dengan Teuku Umar, ia bersama Teuku Umar bertempur bersama melawan Belanda.
After her marriage with Teuku Umar, she fought against Dutch along with Teuku Umar.
Pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien meninggal karena usianya yang sudah tua.
On November 6th 1908, She died due to her age.
Cut Nyak Dhien diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 2 Mei 1964.
Cut Nyak Dhien was claimed by President Sukarno as Indonesian National Hero (National Hero of Indonesia) on May 2th 1964.

